Art Original
Mencari sosok ideal hakim agung Indonesia
Buku ini merupakan dokumentasi dan refleksi atas pelaksanaan amanat konstitusional Komisi Yudisial (KY) dalam mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR, sesuai UUD 1945 dan UU No. 18 Tahun 2011 tentang Komisi Yudisial.Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memetakan dan merumuskan kriteria serta mekanisme ideal dalam rekrutmen Hakim Agung Indonesia melalui sinergi antara tiga pilar kekuasaan: Komisi Yudisial sebagai lembaga pengusul, Mahkamah Agung sebagai pengguna, dan DPR sebagai lembaga pemberi persetujuan. Metode yang digunakan adalah studi dokumentasi dan wawancara mendalam terhadap seluruh tahapan seleksi Calon Hakim Agung (CHA) yang dilakukan KY, mulai dari seleksi administratif, seleksi kualitas (karya tulis, penguasaan hukum materiil), pemeriksaan kesehatan dan kepribadian, hingga wawancara terbuka dengan rekam jejak.Hasil kajian menunjukkan bahwa sosok ideal Hakim Agung Indonesia tidak hanya diukur dari kompetensi yuridis dan pengalaman minimal 20 tahun menjadi hakim (jalur karir) atau gelar doktor hukum (jalur non-karir), namun yang utama adalah integritas, kepribadian tidak tercela, adil, jujur, profesional, berani, dan mampu menjaga keluhuran harkat dan martabat peradilan. Sebagaimana disampaikan Ketua KY Aidul Fitriciada Azhari, KY sebagai satu-satunya lembaga negara yang mengatur etika bertugas mengintegrasikan hukum moral dan hukum positif.Buku ini menegaskan bahwa tanpa etika, hukum tidak dapat mencapai tujuannya. Oleh karena itu, rekrutmen Hakim Agung harus transparan, partisipatif, objektif, dan akuntabel untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sempat tercoreng oleh kasus suap hakim. Buku ini diharapkan menjadi rujukan akademisi dan panduan bagi KY dalam melahirkan Hakim Agung yang menjadi benteng terakhir keadilan.
| HAI201700-1 | R 353.4 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain